My Romadlan Story By Aufa Ninik Wahyuni


Ada pengalaman lucu saat bulan Romadlon. Penuh drama dan air mata tapi bikin ketawa. Pasalnya waktu itu anak yg nomer dua masih kecil, belajar puasa. Dia tuh anaknya gak tahan laper. Pagi da anteng gak minta makan, pas waktu menjelang siang, dia mulai beraksi :

"Aku lapar, aku lapar, aku lapar, " teriakannya menggema di seluruh rumah.

"Adek, gak boleh teriak gitu dong, malu."

Aku gendong dia sambil menenangkannya.

"Aku lapar ummi, pokoknya lapar."

"Ya iyalah dek, namanya puasa pasti lapar. Kalau kenyang itu tandanya habis makan."

"Uda tidur aja ya, biar gak lapar."

***********

Drama di lain hari, pas diajak jalan buat beli baju gak terasa waktu sudah hampir maghrib krn berangkatnya memang sudah sorean. 10 menit lagi waktunya berbuka. Lha kok nangis minta beli es. Haus katanya.  Aduh adek, bentar lagi juga buka, masak mokel.

"Nggak mau, pokoknya minum."

"Tahan bentar lagi, sini duduk dipangku ummi."

"Pokoknya minum, aku mau pingsan nih."

He he he antara kesal dan ingin tertawa. Ya sudah lah mokel sehari. Umurnya juga masih kecil gpp. Sebetulnya sayang sih tinggal 10 menit lagi buka.

Mengajarkan anak untuk puasa memang berat. Tidak bisa sim salabim. Ada anak yg tahan lapar, ada yang mudah lapar. Dari 3 anak, yang nomer dua paling tidak tahan lapar. Sebentar uda pengin makan.

Jadi puasa baginya sangat berat seperti melewati gunung dan lembah. Perjuangannya beud. Tentu saja saya harus extra sabar menghadapinya gak bisa dipaksa. Karena ibadah itu dibiasakan dan ditumbuhkan kesadaran bukan dari paksaan.

Dan hasil dari didikan kita. Kelihatan ketika dia sudah besar. Ibadah dengan kesadarannya sendiri. Jika dari kecil kita mendidiknya dengan berbagai macam paksaan dan ancaman, maka saat dia besar bisa membangkang karena merasa ibadah suatu hal yang gak asyik, cuma kena marah dan bentakan.

Tapi kalau kita menanamkan kesadaran dalam jiwanya tentang pentingnya ibadah, manfaat yang didapat sambil memberi reward jika dia berhasil maka akan terpatri dalam jiwanya bahwa ibadah itu suatu kebutuhan. Kesadarannya untuk beribadah akan sangat besar jika kita menanamkannya dengan rasa cinta.

Tidak mudah memang. Tapi usaha takkan menghianati hasil. Dan semua dramanya saat kecil akan menjadi cerita tersendiri yang membuat gelak tawa.

"Memang aku dulu seperti itu ya,Mi?"

"Iya kamu dulu hidupnya paling drama sendiri."

Alhamdulillah setelah usianya semakin bertambah, usia SD ibadah tanpa disuruh.

#AufaNinikWahyuni
#MenanamkanKesadaranBeribadahBukanPaksaan

By
Ninik Wahyuni

Source :
My Story

3 Responses to "My Romadlan Story By Aufa Ninik Wahyuni"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel